Sapa yang gak kenal Tamansari?? Salah satu situs cagar budayanya Jogja yang paling terkenal ini masih ada di lingkungan keraton. Yup..yup…Jogja emang gak pernah lepas dari keindahan istananya ya..
Minggu kemaren, setelah sekian lama gak pernah jalan-jalan ke lingkungan keraton (kalo lewat seh sering he..he..), aku nyempetin mengunjungi water castle tamansari ini, tempatnya deket Ngasem (pasar burung)..Tiket masuk, cukup murah, 2.500 rupiah (belum termasuk kasih tips buat pemandunya lho)
Tamansari sendiri, pada awalnya (jamannya Jogja masih berupa kerajaan) adalah kolam pemandian, bangunan ini sendiri berdiri pada masa pemerintahan HB ke 3, padahal mulai sudah mulai dibangun pada masa pemerintahan HB I lho.
Begitu masuk ke dalam kompleks Tamansari, kita dihadapkan pada 2 kolam besar, yang pertama kolam bagi para selir, dan kolam kedua yang ukurannya lebih kecil adalah kolam untuk putra-putri raja (enaknya jadi anak raja, punya kolam pribadi bo’)..
Perjalanan berlanjut ke sebuah masjid yang cukup unik. Jaman dulu neh, di sekitar Masjid adalah danau, jadi rumah-rumah yang kita liat di belakang Tamansari itu gak ada. Selain berfungsi sebagai tempat ibadah, bangunan ini juga berfungsi sebagai benteng pertahanan. Gila, keren benget, ada jalan pintasnya juga lho yang langsung menuju ke Keraton.
Masuk Masjid, kita bakal terkagum-kagum ma bentuknya. Melingkar. Heran, bisa juga ya arsiteknya kepikiran untuk bikin Masjid melingkar. Buat pengganti TOA, why? Soalnya kalo kita ngomong di Masjid ini pasti bergema. Di tengah, ada yang namanya Sumur Gemuling. Fungsinya menyimpan air untuk wudlu. Nah, karena bangunan terakhir yang tinggi goncang akibat gempa tahun 2006 kita gak bisa kesana deh. So, perjalanan wisata mini kita cuma berakhir di sini aja.
- Lorong di Masjid Tamansari
- Di atas pintu ada lambang kalamakaranya, lambang kebesaran raja..


