ternyata tulisannya tampak panjang….
masih yudi sama anq yang sedang mengingat masa muda dahulu….
Dari mesjid kita terusin ke selatan. Tetep di jalan masjid besar. Di selatan, kanan jalan, tanya aja ke penduduk, yang namanya cepuri itu dimana. Nanti dikasi liat. Merupakan tembok bagian dalam keraton. Bangunan ini dianggap sakral sama penduduk. Kalo orang yang ditanya ga tau, berarti dia bukan penduduk setempat. Ukurannya…..damn. Lupa lagi. Tingginya sekitar 1 meter, lebarnya 1,5 meteran. Ini dibuat dari batu putih (kebiasaan arkeologi: ketika menemukan batu bangunan berwarna putih maka dia disebut batu putih). Buat yang lagi ga ada kerjaan, iseng, penasaran, kesepian, jomblo, ataupun yang lagi patah hati, berkeliling menyusuri cepuri merupakan kegiatan yang menyenangkan. Sangat menyenangkan. Kalo ditanya “saking pundi mas/mbak?” Bilang aja lagi survey buat skripsi, atau survey dampak gempa ke cepuri.
Kenapa keliling cepuri itu asyik? Karena kita bisa liat bahwa walaupun kotagede udah bukan jadi keraton lagi, tapi cepurinya ga dirusak sama warga. Ya…paling parah cuman “kepake dikit” buat rumah warga. Tapi kalo mau keliling masih lumayan utuh kok. (ini sebelum gempa, setelah gempa aku belum lihat bagian-bagian pojoknya).
Udah capek ngelilingin cepuri?didekat cepuri jalan masjid gede ada sesuatu. Ada apakah disana?
Heee……ada Rumah Kalang. Ini namanya rumah kalang ya? Merupakan rumah khas kotagede.
Ada dikiri sama kanan jalan. Yang mana rumahnya? Pokoknya rumahnya itu masuk ke gang. Keliatan dari jalan rayanya. Buat yang dari arsitektur, daerah Kotagede ini sebelum gempa emang jadi ladang penelitian, praktikum atau kuliah lapangan. Keselatan lagi aja deh.
Oooohhh. Kompleks pemakaman Hastorenggo. Seperti biasa ga boleh masuk. Terutama buat turis kecuali mau make baju adat jawa terus ga boleh bawa kamera dan mematuhi segala peraturan tertulis dan tidak tertulis yang berlaku……ya…kalo dibayang, cuman kaya turis berdiri ditengah makam untuk menikmati keindahan….makam?!
Dari makam, kita ke selatan. Ada bangunan ditengah jalan. Ngehalangin jalan dan tampak tidak penting. Tapi isinya itu adalah watu gilang dan watu gatheng. Watu gatheng itu batu bulet, lebih kecil dari bola voli. Gunanya katanya buat mainan anaknya Panembahan Senopati. Menurutku? Batu itu ada disana secara tidak sengaja/kebetulan. Jadi mungkin batu itu terpilih karena bentuknya yang bagus dan lucu. Sedangkan watu gilang itu batu tempat duduknya Panembahan Senopati. Walaupun begitu, kalo kalian iseng nyari di internet, pasti bakal ketemu kalo ada tulisan dari beberapa bahasa di batu ini. Kalo ga salah ada bahasa Jerman juga. Dan tentu saja yang nulis kemungkinan besar bukan Panembahan Senopati. Tapi ini ga masalah. “Apa yang kamu yakini tidak akan menyakitimu”.
Sangat disayangkan, ada satu tempat menarik bernama “bokong semar”, merupakan pojok cepuri bagian antara timur-tenggara . Bentuknya kaya bokong. Sekarang kesana susah. Kalo ga lewat gunungan sampah, menyusuri sungai yang sudah tidak jelas lagi apa isinya (please, aku ga mau mati keracunan)…ini contoh klasik dari pertahanan pojok benteng dengan dibuat membulat untuk dapat mempertahankan diri dengan lebih baik.
Udah capek? Secara logika dan kepariwisataan mungkin sudah habis.
Well. Udah. Itu aja sih. Kotagede kuno. Ringkasan pariwisata. Kalo mau banyak, malah jadi buku nantinya…… kalo makanan…kipo, sate karang, ada yang enak tapi udah tutup gara2 gempa. Yang jual ketimpa atap rumahnya. Dia jual nasi goreng kari. Enak. Tapi sayang yang jual udah ga ada……